Jumat, 08 November 2013

Gagal Tanam di Sungai Tabukan


UPK Tanggung Tunggakan Rp 50 Juta
  Gara-gara petani gagal tanam, Unit Pengelola Kegiatan (UPK) PNPM Mandiri Perdesaan Kecamatan Sungai Tabukan Kabupaten Hulu Sungai Utara harus menanggung tunggakan dari kelompok simpan pinjam khusus perempuan (SPP) sebesar Rp 50.550.000. Pinjaman bermasalah dari dua kelompok SPP di Desa Tambalang Raya bahkan sudah hampir satu tahu tidak mengangsur dan masuk dalam kolektabilitas 5 dengan nilai Rp 28.830.000. Sedangkan 6 kelompok SPP di Rantau Bujur Hilir ikut menunggak Rp 18.390.000.

 "Di Tambalang Raya sudah dua kali kami datangi, tapi masyarakat tetap tak sanggup membayar. Alasannya karena gagal tanam, sehingga sawah tak bisa menghasilkan padi," kata bendahara UPK  Warni Khairiyani. Penghasilan kelompok SPP yang bermasalah itu kebanyakan sebagai pengrajin anyaman purun. Saat ini harga purun sedang turun, mereka rugi sehingga tidak bisa membayar pinjaman. Sedangkan suami mereka sebagai pencari kayu bakar di hutan, saat ini menganggur karena banyak razia. Hasil dari anyaman purun hanya untuk makan sehari-hari.
Ketua kelompok Mawar Sari, Ernita dan kelompok Mekarsari, Samsiah, tak mampu berbuat banyak terhadap anggotanya yang masih menanggung pinjaman tahun 2012 Rp  28.830.000. Mereka sudah tanda tangan pada surat perjanjian Juni 2013 sanggup membayar setelah panen. Tapi ternyata gagal tanam karena banyu kada besurut, air di lahan persawahan tak pernah surut saat waktu tanam tiba.  

Sekretaris UPK Muhamad Thaha Aminudin berencana untuk mendatangi lagi ke desa, minta angsuran per minggu biar UPK yang mengambil.  "Awal bulan ini kami dengan Fasilitator Kecamatan sedang menunggu konfirmasi dari  kepala desa," katanya. Desa yang masih punya tunggakan SPP tahun 2013 tidak mendapat BLM. Pada minggu kedua Desember nanti ada MAD Prioritas iTambalang Raya dan Rantau Bujur Hilir  terancam tak terdanai lagi. Padahal  di 2012 lalu Tambalang Raya mengusulkan beasiswa pengadaan peralatan sekolah Rp 55 juta untuk pengadaan peralatan sekolah 123 anak. Namun karena masih ada tunggakan SPP, usulan itu tak masuk ranking untuk didanai.
Ketua UPK Anshari memperlihatkan lahan sawah yang gagal tanam di Desa Pematang Benteng Hilir. Tahun 2013 BLM Rp 121.844.000 untuk pembuatan titian ulin jalan usaha tani sepanjang 150 meter dan lebar 1,25 meter. Titian itu sebagai lanjutan pembangunan serupa di tahun 2011, karena prasarana itulah yang dibutuhkan masyarakat.
Namun sayangnya, tahun 2013 hanya sedikit lahan yang bisa ditanami padi karena rata-rata gagal tanam.  Pelatihan meningkatkan kualitas produk anyaman purun untuk menambah penghasilan warga pernah diusulkan. Namun bentuk pelatihan yang tepat belum ditemukan. Harga tikar purun murah, pengrajin bertahan tak menjualnya karena  rugi kalau dijual. Tikar purun kebanyakan dipakai untuk menjemur gabah. Karena gagal tanam dan tak ada panen padi, maka tak ada gabah yang dijemur dan tak butuh tikar purun. (Tim UPK)

Dana Rp 1,4 M UPK Banjang Mengendap di Bank



 Tagihan ke Pinjaman Macet Rp 35 juta
 UPK Banjang Kabupaten Hulu Sungai Utara sampai awal November 2013 masih menanggung tunggakan kelompok simpan pinjam khusus perempuan (SPP) kategori kolektabilitas 5 dari tujuh kelompok Rp 35.190.800. Masing-masing kelompok Yasinan Desa Patarikan Rp 1.950.00, kelompok Yasinan Desa Sungai Bahadangan Rp 1.760.050, kelompok Al Hikmah Rp 6.449.200 dan kelompok Melati Rp 4.287.500 dari Desa Pawalutan. Kemudian Kelompok Mawar Desa Kalingtamui Rp 5.982.800, kelompok Teratai Desa Danau Teratai Rp 7.961.600, serta kelompok Kencana Rp 5.899.500 dan Matahari Rp 1.584.200 Desa Teluk Buluh.

Di Danau Teratai tunggakan karena anggota sudah setor ke pengurus, tapi tak disetor ke UPK. Sewaktu ada audit dari BPKP April 2012, semua anggota dicek," kata Ketua UPK Banjang Noorhasanah. Di Teluk Buluh tiap anggota dimintai pernyataan kesanggupan untuk membayar angsuran sesuai kemampuan. "Beberapa bulan ada angsuran, tapi mandek lagi. Di Danau Teratai tak ada perkembangannya,"  tambah bendahara Rini Muslimah.
Sekretaris Fahrizal Abdi memaparkan, untuk mengefektifkan kembali tim penyehatan pinjaman (TPM), perlu koordinasi dulu dengan Faskeu terkait dengan biaya operasional TPM .  
Aset UPK produktif UPK Banjang saat ini yang ada di masyarakat Rp 280.562.750, sehingga yang mengendap di bank Rp 1.467.764.674. Rencana perguliran lagi pada bulan Januari 2014. Untuk kelompok baru tak ada, karena pengalaman satu kali pembayaran sudah macet. Total ada  26 kelompok beranggota 217 tersebar di 15 desa dari 20 desa di Banjang. Lima desa tidak ikut ambil SPP karena kades takut terkena sanksi fisik jika ada tunggakan. Lima desa tak ada kelompok SPP, Murung Padang, Karyas Dalam, Teluk Sarikat, Garonggang, Kalodan Besar, dan Rantau Bujur.
Perguliran ke-10 bulan Februari 2013 dari proposal yang masuk Rp 1,2 miliar, setelah diverifikasi yang layak terdanai hanya Rp 620 juta, dan masih ada kelompok yang mundur, sehingga yang tersalurkan Rp 476.500.00. Karena itu uang di bank masih banyak, sejak 2011 tidak mengambil dana SPP regular yang 25% dari BLM.
Tim penyehat pinjaman pernah aktif pada Januari 2013. Camat, Kapolsek dan Danramil ikut turun ke desa. "Waktu itu langsung ada hasilnya, masyarakat mau membayar angsuran. Sebenarnya banyak yang ingin meminjam, tapi kepala desa tidak mau memberikan rekomendasi pembentukan kelompok, khawatir jika terjadi tunggakan desa terkena sanksi tidak memperoleh BLM untuk prasarana fisik. Tahun 2013 BLM untuk Banjang Rp 800 juta, terbanyak dipakai perbaikan jalan desa dan jalan usaha tani (JUT) seperti di Beringin Rp 171.846.625, di Keludan Kecil Rp 175.425.500 dan Pandulangan Rp 128.412.600.
Untuk tahun 2014, dalam MAD Sosialisasi rencana usulan berbasis kawasan hari Kamis 7 November 2013, tentu saja semua usulan untuk pembangunan fisik, belum muncul usulan untuk kegiatan pelatihan peningkatan ekonomi warga RTM. (Tim UPK)

Selasa, 05 November 2013

JUT Sungai Rutas Nyaris Tembus Tapin-HSS



Tak Perlu 'Basahan Kabahu' Lagi

Lahan pertanian di lingkungan RT 07 Desa Sungai Rutas Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Kalsel, sebagian belum hanya memiliki  jalan setapak ataupun berupa galangan kecil pembatas sawah yang dijadikan sarana transportasi para petani. Mulai dari awal proses penanaman padi, pemeliharaan, panen sampai pascapanen semua mobilisasi dilaksanakan hanya dengan berjalan kaki. Lebih-lebih pada saat penanganan hasil panen,  gabah basah harus diangkut dengan jalan kaki, plus “basahan kebahu” (diangkut dengan meletakan karung berisi gabah basah di atas pundak).

Sagian salah seorang warga Desa Sungai Rutas menceritakan bagaimana sulitnya mengangkut hasil panen dengan berjalan kaki. Selain menguras tenaga juga hasil panen ada yang terbuang karena ada kemungkinan jatuh selagi mengangkat beban yang cukup berat. Malam harinya tinggal merasakan pegal-pegal dan buru-buru mencari  “paurutan“ (tukang pijat).
Masyarakat RT. 07 lewat Musyawarah Desa Perencanaan yang merupakan bagian proses pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan, berinisiatif untuk mengusulkan kegiatan Pembangungan Jalan Tani dengan Perkerasan Sirtu ke PNPM Mandiri Perdesaan untuk dikerjakan dengan menggunalkan dana BLM sebagai upaya mengatasi masalah mereka di atas. Keinginan mereka segera terwujud karena Usulan Kegiatan mereka sesuai dengan prinsip-prinsip akan kebutuhan, kemendesakan, keberpihakan pada masyarakat kurang mampu dan partisipatif. Juga RPJM Desa Sungai Rutas yang telah disusun Kepala Desa secara patisipatif mengakomodir keinginan masyarat RT. 07 ini.

Alhasil, masyarakat atas nama TPK Desa Sungai Rutas, yang diketuai Mujiono dapat  melaksanakan  dan menyelesaikan pekerjaan pembangunan jalan tani dengan perkerasan sirtu dengan biaya BLM Rp 322.675.500, dan nilai swadaya yang  dihargai adalah Rp 9.703.000. 
Adapun Volume Pekerjaan tersebut sesuai dalam Surat Pejanjian Pemberian Bantuan (SPPB) adalah 300 x 2 meter.
Dalam pelaksanaanya ternyata volume terpasang yang dapat dilaksanakan TPK pada pekerjaan tersebut adalah 311 x 2 meter karena adanya sisa dana dari proses Lelang yang dilaksanakan oleh TPK terhadap barang dan alat yang terdapat dalam Desain dan RAB. Sekarang kondisi pertanian di lingkungan RT. 07.  lebih baik karena masyarakat petani mudah dalam melakukan mobilisasi berkaitan dengan aktifitas tani mereka.

Menurut Mujiono kalau BLM-nya lebih besar jalan tersebut bisa menjadi jalan penghubung antara dua ruas jalan provinsi. Hal ini dibenarkan Abdul Jalil, kepala desa Sungai Rutas. "Kira-kira 150 meter lagi jalan tersebut akan tembus dengan Jalan Provinsi yang menuju Kabupaten Hulu Sungai Selatan," ujarnya. Tentu kalau hal tersebut dapat direalisasikan akan membuka akses yang lebih lagi terhadap Desa Sungai Rutas. (Eddi-FT CLS-Tapin)

Jumat, 01 November 2013

Jalan Tani Desa Cempaka Tapsel



'Kaini nyaman ma'angkut hasil paninan' 

Pekerjaan Jalan Tani Desa Cempaka di Kecamatan Tapin Selatan, Tapin, melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan ( PNPM – MPd ) sangat dirasakan manfaatnya oleh para petani. Terutama para petani yang sawahnya dilalui oleh jalan tani tersebut. Sebelum adanya pekerjaan Jalan Tani yang dikerjakan oleh masyarakat melalui bantuan PNPM – MPd, untuk menuju lokasi persawahan saja sudah susah apalagi untuk mengangkut hasil panen pada saat musim panen tiba. Banyak hasil panen yang tidak dapat langsung diangkut karena terkendala jalan. Sekarang  jalan tani itu  dapat menjadikan desa lebih maju, dan petani tidak kesulitan mengangkut hasil panen. "Nah amun kaini, nyaman kena kami ma’angkut hasil paninan,” begitu ungkap H Upi, petani yang sawahnya berada di kiri-kanan jalan. (Heri-FK Tapsel)

Drainase di Suato Tapsel Cegah Becek



Warga Tidak Khawatir Tergelincir
Pada saat musim hujan, jalan desa di Suato Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin, Kalsel, sangat licin karena banyaknya genangan air yang berada di badan jalan. Genangan tak pernah kering, karena air bertambah terus. Kondisinya becek dan berlumpur. Warga yang melewatinya selalu khawatir tergelincir, dan harus hati-hati. Namun keadaan seperti itu kini sudah berubah. Pembangunan drainase oleh masyarakat yang didanai BLM (bantuan langsung masyarakat) PNPM Mandiri Perdesaan menghilangkan rasa cemas warga. Farhan, warga yang tiap hari melintasi jalan itu untuk ke kebun gembira melihat kondisi jalan yang sudah tidak becek lagi. (Kuwat-FT Tapsel)

UPK CLU Tapin Bagikan Surplus ke Lansia



RTM Lansia di 4 Desa Perlu Perhatian
Di bawah panas matahari pengurus UPK Candi Laras Utara (CLU) Tapin, Kalsel, belum lama berselang mendatangi rumah-rumah warga RTM (rumah tangga miskin) di empat desa untuk menyalurkan bantuan sosial dari surplus UPK tahun 2013 senilai Rp 37.000.000. Mereka yang berhak menerima itu kebanyakan kaum lansia di Sungai Salai, Teluk Haur, Buas-Buas Hilir dan Desa Kaladan. Masing-masing desa mendapatkan dana batuan sosial RTM sebesar Rp 9.250.000.
Para penerima tampak benar-benar warga yang serba kekurangan. Di Teluk Haur ada seorang lansia yang hidup sebatang kara, dengan kondisi rumah yang sangat tidak layak, sebuah gubuk yang hampir roboh. Sepertinya tak ada orang lain yang memperhatikan nasibnya.

Ketua UPK Syahrul saat berdialog dengan salah satu penerima bantuan RTM di Desa Teluk Haur sempat bingung. Jainudin berusia sekitar 70 tahun, hanya terdiam menerima kedatangan Syahrul.
"Pa ini kami dari UPK kecamatan Candi Laras Utara ada membarikan bantuan sosial RTM. Ini untuk pian, tolong diterima”. Lelaki tua itu tidak menjawab. Ternyata dia sudak tidak bisa mendengar lagi. Namun ketika dijelaskan kembali, dibantu KPMD, dia lantas menyambutnya dengan ungkapan rasa sangat berterima kasih. Jainudin dan masih banyak lagi lansia senasib dengannya memang mengharapkan uluran bantuan tadi. (Samlan-FK Kec. CLU, Kab Tapin)